Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

bagaimana tampilan blog ini?

Obama Larang Kedua Putrinya Main Facebook

artikel ini sudah di klik sebanyak
kali

facebook
TEMPO Interaktif, London

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mengaku telah melarang kedua putrinya menggunakan Facebook karena ia tak ingin urusan keluarganya menjadi santapan publik.

Putri sulungnya, Malia, kini baru berusia 13 tahun sementara adiknya, Sasha, berusia 10 tahun. Anak-anak seusia mereka pada umumnya sudah mulai ber-Facebook ria, tapi Obama menegaskan tak akan mengizinkan kedua putrinya itu menggunakan media sosial tersebut hingga mereka berusia 17 tahun.

Sikap Obama ini terbilang ironis mengingat ia sangat terbantu oleh Facebook dan situs jejaring sosial lainnya saat terpilih sebagai presiden AS pada 2008.
Obama bahkan dijuluki sebagai ‘Presiden Media Sosial Pertama’. Halaman Facebook Obama – yang mencatat 24 juta ‘likes’ – masih menjadi andalan dalam upayanya untuk pencalonan dirinya kembali. Dalam sebuah wawancara, Obama mengungkapkan alasannya di balik keputusan pelarangan Facebook bagi kedua putrinya.

»Kenapa kita ingin membuat banyak orang yang tak kita kenal untuk mengetahui urusa kita? Itu tak masuk akal,” kata Obama.
»Kami akan lihat bagaimana perasaan mereka (kedua putrinya) dalam empat tahun ke depan.”

Menariknya, Obama tetap aktif menggunakan Facebook termasuk dengan menampilkan foto terbaru keluarganya awal pekan ini. Di bawahnya tertulis keterangan ‘Potret keluarga Obama terbaru!’ dan sejauh ini telah mencatat 71 ribu ‘likes’ dan 11 ribu komentar.

ibukota kecamatan di Kepulauan Selayar

artikel ini sudah di klik sebanyak
kali
yang masuk dalam lingkaran merah tersebut merupakan ibukota kecamatan walaupun kenyataannya bukan merupakan sebuah desa ataupun sebuah kelurahan. mungkin yang masuk dalam lingkaran merah tersebut berbentuk dusun tapi apakah tidak sebaiknya nama desa/kelurahannya saja yang dimunculkan menjadi ibukota kecamatan? terlepas dari asumsi tadi, nama ini memang sebenarnya sudah sangat akrab ditelinga masyarakat kabupaten Kepulauan Selayar.

kabupaten kepulauan selayar

artikel ini sudah di klik sebanyak
kali
Kabupaten Kepulauan Selayar (dahulu Kabupaten Selayar, perubahan nama berdasarkan PP. No. 59 Tahun 2008)[2] adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten Kepulauan Selayar adalah Kota Benteng. Kabupaten ini memiliki luas sebesar 10.503,69 km² (wilayah daratan dan lautan) dan berpenduduk sebanyak 121.749 jiwa.[3] Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri dari 2 sub area wilayah pemerintahan yaitu wilayah daratan yang meliputi kecamatan Benteng, Bontoharu, Bontomanai, Buki, Bontomatene, dan Bontosikuyu serta wilayah kepulauan yang meliputi kecamatan Pasimasunggu, Pasimasunggu Timur, Takabonerate, Pasimarannu, dan Pasilambena.

Letak Geografis

Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan salah satu di antara 24 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang letaknya di ujung selatan Pulau Sulawesi dan memanjang dari Utara ke Selatan. Daerah ini memiliki kekhususan yakni satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Selatan yang seluruh wilayahnya terpisah dari daratan Sulawesi dan terdiri dari gugusan beberapa pulau sehingga membentuk suatu wilayah kepulauan.[4]
Gugusan pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar secara keseluruhan berjumlah 130 buah, 7 diantaranya kadang tidak terlihat (tenggelam) pada saat air pasang. Luas wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar meliputi 1.357,03 km² wilayah daratan (12,91%) dan 9.146,66 km² wilayah lautan (87,09%).[3] Secara geografis Kepulauan Selayar berada pada koordinat 5°42'-7°35' Lintang Selatan dan 120°15'-122°30' bujur timur yang berbatasan dengan:

Utara Kabupaten Bulukumba dan Teluk Bone
Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur
Barat Laut Flores dan Selat Makassar
Timur Laut Flores (Provinsi Nusa Tenggara Timur)

Berdasarkan letak sebagaimana dikatakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Kebudayaan Kepulauan Selayar bahwa Selat Selayar dilintasi pelayaran nusantara baik ke timur maupun ke barat, bahkan sudah menjadi pelayaran internasional.[5] Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan "kepulauan" yang berada di antara jalur alternatif perdagangan internasional yang menjadikan daerah ini secara geografis sangat strategis sebagai pusat perdagangan dan distribusi baik secara nasional untuk melayani Kawasan Timur Indonesia[6] maupun pada skala internasional guna melayani negara-negara di kawasan Asia.

Topologi dan Iklim

Dipandang dari sudut tofografinya Kabupaten Kepulauan Selayar yang mempunyai luas kurang lebih 1.357,03 Km² (wilayah daratan) dan terdiri dari kepulauan besar dan kecil serta secara administrative terdiri dari 11 Kecamatan, 67 desa dan 7 kelurahan [3] adalah variatif dari yang datar hingga agak miring. Sementara itu tipe iklim di wilayah ini termasuk tipe B dan C, musim hujan terjadi pada bulan November hingga Juni dan sebaliknya musim kemarau pada bulan Agustus hingga September. Secara umum curah hujan yang terjadi cukup tinggi dan sangat dipengaruhi oleh angin musiman. Karakteristik daerah atau Topografi Kabupaten Selayar terdiri dari :

Batuan Induk Vulkanik
Terbentuk dari pertemuan jalur pegunungan muda sirkum mediterania dan sirkum pasifik, yang membentuk daratan Selayar adalah batuan yang cukup mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman, oleh tenaga oksigen yang berlangsung lama, batuan itu lapuk membentuk tanah yang subur ini oleh pengaruh tenaga oksigen dapat berubah menjadi tanah karang seperti tanah laterit. Sebab itu perlu tindakan-tindakan konservasi, seperti sengkedan pada tanah-tanah miring, penggiliran tanah, pemupukan dan lain-lain.

Bentang Alam (Nataral Landscape)
Dataran Selayar yang terjadi karena tenaga endogen (pengangkatan dan pelipatan) kemudian kemudian disususl dengan tenaga oksigen, membentuk betang alam (natural landscape) yang beraneka ragam seperti:
  1. Pegunungan dengan ketinggian rata-rata 800 meter sehingga tidak cukup untuk terjadinya hujan orografis pegunungan, di punggungnya hutan tutupan dan di lerengnya perkebunan tanaman pohon kerea yang berakar panjang serta berumur panjang. Tanaman dengan pohon lunak seperti vanili, merica, kentang, kol dan lain-lain diperlukan sengkedan untuk mencegah erosi dan longsor.
  2. Daerah curam, aspek geografisnya adalah kawasan hutan (hutan tutupan) untuk mencegah longsor
  3. Daratan tinggi, aspek geografisnya, adalah:
    • Baik untuk pemukiman, karena udara sejuk dan drainasenya mudah diatur dan tidak tergenang
    • Perkebunan bagi tanaman budi-daya yang memerlukan udara sejuk, seperti cengkeh, jagung Meksiko dan lain-lain
    • Horti kultura, seperti sayur mayur, kentang bunga-bunga dan bonsai
    • Pusat-pusat kesehatan seperti sanatorium
    • Pusat-pusat pelatihan, kantor-kantor, hotel-hotel, tempat rekreasi dan lain-lain
  4. Daerah-daerah ledok dan lembah, aspek geografisnya adalah:
    • Tempat akumulasi/persedian air untuk daerah sekitarnya. Dengan pompanisasi dapat dialirkan ke daerah-daerah ketinggian.
    • Daerah pertanian tanaman pangan, seperti sayur mayur kangkung, bayam jagung lokal, kaca-kacangan dan lain-lain
  5. Tanah daratan rendah, aspek geografisnya adalah:
    • Untuk perkebunan, seperti kelapa dan coklat
    • Untuk pertanian menetap, seperti sawah dan huma.
  6. Tanah rawa-rawa, aspek geografisnya adalah:
    • Kawasan pohon nipa, tempat ikan tempat bertelur, bahan baku gula merah dan atap tradisional yang indah dan sejuk
    • Empang dan pembuatan garam
    • Kawasan bakau, tempat ikan bertelur dan berlindung, serta mencegah abrasi
  7. Daerah berbukit-bukit dan tanah bergelombang, aspek geografisnya adalah:
    • Baik untuk pemukiman, sebab udara sejuk, drainasenya mudah diatur, diwaktu malam nampak indah bagai pelaut yang menuju ke Selayar
    • Perkebunan, tanaman budi daya seperti cengkeh, coklat dan kelapa.
    • Pertanian tanaman pangan seperti jagung dan padi, tetapi harus bertaras supaya tidak terjadi erosi.
  8. Daerah Aliran Sungai (DAS)
    • Daerah aliran sungai (DAS), aspek geografis satu-satunya adalah kawasan hutan hidrologi (hutan tata air)
  9. Daerah berbatu-batu
    • Daerah yang berbatu-batu di bagian utara, aspek geografisnya hutan tutupan. Baik juga untuk hutan produksi, seperti jati dan holasa (kayu bitti). Hanya eksploitasinya tebang pilih dan tebang ganti serta rerumputan untuk pakan ternak.

Geologi

Kondisi geologi pulau Selayar merupakan kelanjutan dari wilayah geologi Sulawesi Selatan bagian Timur yang tersusun oleh jenis batuan sediment. Struktur geologi Kepulauan Selayar menunjukkan struktur-struktur dan penyebaran batuan berarah Utara - Selatan dan miring melandai kearah Barat. Sedangkan pantai Timur umumnya terjal dan langsung dibatasi oleh laut dalam yang cenderung merupakan jalur sesar.
Statigrafi batuan di Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri dari:
  • Endapan rasa manis alluvial dan endapan pantai terdiri atas kerikil pasir, lempung Lumpur dan batu gamping cral (Qac).
  • Satuan formasi Kepulauan Selayar walanae mencakup batu gamping, batu pasir, batu lempung, konglomerat dan tufa (Tmps) yang terdapat di sisi Barat hingga ujung Pulau Selayar.
  • Satuan formasi batuan gunung api camba, meliputi breksi, lava, konglomerat dan tufa yang terdapat pada bagian Selatan Pulau Selayar.
  • Formasi camba, terdiri dari batuan sediment laut berseling dengan batuan gunung api (Tmc) terdapat pada sepanjang pantai Timur Pulau Selayar.
  • Formasi walanae, terdiri dari batu pasir, konglomerat, tufa, batu danau, batu gamping dan napal (Tmpv) terdapat pada ujung bawah pantai Barat Pulau Selayar.

Bupati

Berikut nama-nama Bupati Kepulauan Selayar sejak 1965 :
Logo Selayar.png Kabupaten Kepulauan Selayar
No.
Nama Bupati
Periode
Keterangan
1.

Patta Tjora  
2.

A. H. Dg. Marimba
1965 - 1968
 
3.

Abd. Rauf Rachman
1969 - 1971
 
4.

Andi Palioi
1971 - 1974

5.

Anas Achmad
1975 - 1983
Dua Periode
6.

Ismail
1984 - 1989

7.

Zaenal Arifin Kammi
1989 - 1994

8.
H. M. Akib Patta
1994 - 2004
Dua Periode
9.

H. A. Syamsul Alam Mallarangeng
2004 - 2005
Pejabat Bupati
10.
Drs. H. Syahrir Wahab, MM
2005 - sekarang
Dua Periode
Sumber : bappeda.selayaronline.com

Sejarah

Pada masa lalu, Kabupaten Kepulauan Selayar pernah menjadi rute dagang menuju pusat rempah-rempah di Moluccan (Maluku). Di Pulau Selayar, para pedagang singgah untuk mengisi perbekalan sambil menunggu musim yang baik untuk berlayar. Dari aktivitas pelayaran ini pula muncul nama Selayar. Nama Selayar berasal dari kata cedaya (Bahasa Sansekerta)[7][8] yang berarti satu layar, karena konon banyak perahu satu layar yang singgah di pulau ini. Kata cedaya telah diabadikan namanya dalam Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada abad 14. Ditulis bahwa pada pertengahan abad 14, ketika Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanegara, Selayar digolongkan dalam Nusantara, yaitu pulau-pulau lain di luar Jawa yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Ini berarti bahwa armada Gajah Mada atau Laksamana Nala pernah singgah di pulau ini.

Selain nama Selayar, pulau ini dinamakan pula dengan nama Tana Doang yang berarti tanah tempat berdoa[4]. Di masa lalu, Pulau Selayar menjadi tempat berdoa bagi para pelaut yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke barat maupun ke timur untuk keselamatan pelayaran mereka. Dalam kitab hukum pelayaran dan perdagangan Amanna Gappa (abad 17), Selayar disebut sebagai salah satu daerah tujuan niaga karena letaknya yang strategis sebagai tempat transit baik untuk pelayaran menuju ke timur dan ke barat. Disebutkan dalam naskah itu bahwa bagi orang yang berlayar dari Makassar ke Selayar, Malaka, dan Johor, sewanya 6 rial dari tiap seratus orang.

Belanda
mulai memerintah Selayar pada tahun 1739. Selayar ditetapkan sebagai sebuah keresidenan dimana residen pertamanya adalah W. Coutsier (menjabat dari 1739-1743). Berturut-turut kemudian Selayar diperintah oleh orang Belanda sebanyak 87 residen atau yang setara dengan residen seperti Asisten Resident, Gesagherbber, WD Resident, atau Controleur. Barulah Kepala pemerintahan ke 88 dijabat oleh orang Selayar, yakni Moehammad Oepoe Patta Boendoe. Saat itu telah masuk penjajahan Jepang sehingga jabatan residen telah berganti menjadi Guntjo Sodai, pada tahun 1942. Di zaman Kolonial Belanda, jabatan pemerintahan di bawah keresidenan adalah Reganschappen. Reganschappen saat itu adalah wilayah setingkat kecamatan yang dikepalai oleh pribumi bergelar "Opu". Dan kalau memang demikian, maka setidak-tidaknya ada sepuluh Reganschappen di Selayar kala itu, antara lain: Reganschappen Gantarang, Reganschappen Tanete, Reganschappen Buki, Reganschappen Laiyolo, Reganschappen Barang-Barang dan Reganschappen Bontobangun. Di bawah Regaschappen ada kepala pemerintahan dengan gelar Opu Lolo, Balegau dan Gallarang. Pada tanggal 29 November 1945 (19 Hari setelah Insiden Hotel Yamato di Surabaya) pukul 06.45 sekumpulan pemuda dari beberapa kelompok dengan jumlah sekitar 200 orang yang dipimpin oleh seorang pemuda bekas Heiho bernama Rauf Rahman memasuki kantor polisi kolonial (sekarang kantor PD. Berdikari). Para pemuda ini mengambil alih kekuasaan dari tangan Belanda yang di kemudian hari tanggal ini dijadikan tanggal Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar. Tahun Hari Jadi diambil dari tahun masuknya Agama Islam di Kabupaten Kepulauan Selayar yang dibawa oleh Datuk Ribandang, yang ditandai dengan masuk Islamnya Raja Gantarang, Pangali Patta Radja, yang kemudian bernama Sultan Alauddin, pemberian Datuk Ribandang. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1605, sehingga ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 29 November 1605.[9]

Demografi

Penduduk Kabupaten Kepulauan Selayar menurut Sensus Penduduk tahun 2009 berjumlah 121.749 jiwa yang terdiri dari 57.685 jiwa laki-laki[10] dan 64.064 jiwa perempuan. Komposisi penduduk menurut kelompok umur terdiri dari:
  • Penduduk usia 0 - 14 tahun sebanyak 36.093 jiwa
  • Penduduk usia 15 - 64 tahun berjumlah 77.486 jiwa
  • Penduduk usia 65 tahun keatas sebanyak 8.170 jiwa
Menurut Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 2009 [3], jumlah angkatan kerja di Kabupaten Kepulauan Selayar pada tahun 2009 sebesar 54.996 orang, yaitu yang bekerja sebanyak 49.478 orang dan jumlah pengangguran sebanyak 5.518 orang. Jumlah bukan angkatan kerja sebanyak 32.651 orang dengan rincian 6.503 orang sekolah, 22.162 orang mengurus rumahtangga dan lainnya sebanyak 3.986 orang.
Penyebaran penduduk berdasarkan wilayah Kecamatan pada tahun 2009 adalah sebagai berikut [3]:

Kecamatan Benteng 18.860 jiwa
Kecamatan Bontoharu 11.801 jiwa
Kecamatan Bontomanai 13.642 jiwa
Kecamatan Bontomatene 13.818 jiwa
Kecamatan Bontosikuyu 14.450 jiwa
Kecamatan Buki 6.778 jiwa
Kecamatan Pasilambena 7.802 jiwa
Kecamatan Pasimarannu 8.923 jiwa
Kecamatan Pasimasunggu 7.008 jiwa
Kecamatan Pasimasunggu Timur 6.524 jiwa
Kecamatan Takabonerate 12.143 jiwa

Pariwisata & Kebudayaan

Taman Nasional Takabonerate
Tari Pakarena di pulau Selayar di masa Hindia Belanda
 
Potensi Wisata di Kabupaten Kepulauan Selayar cukup banyak meliputi wisata sejarah, wisata budaya, wisata alam dan wisata bahari[11]. Salah satu yang terkenal adalah Taman Nasional Takabonerate[12] yang terletak di kecamatan Takabonerate. Jumlah wisatawan yang mengunjungi Taman Nasional Takabonerate pada tahun 2009 mencapai 576 orang. Kawasan ini terdiri dari 21 buah pulau serta puluhan taka dan bungin, umumnya terbentuk dari endapan pasir dan biosfer. Taman Nasional Taka Bonerate memiliki karang atol terbesar ketiga di dunia[13][5] (terbesar di Asia Tenggara) yaitu setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Luas atol tersebut sekitar 220.000 hektar, dengan terumbu karang yang tersebar datar seluas 500 km². Dalam rangkaian Hari jadi Kepulauan Selayar di lokasi ini setiap tahunnya diadakan festival yang bertajuk Takabonerate Island Expedition[14]. Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa kegiatan ini sudah masuk dalam kalender kegiatan pariwisata nasional dan rencananya akan ditingkatkan menjadi "Sail Takabonerate"[15]. Seperti penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, Takabonerate Island Expedition akan diisi kegiatan lomba rutin seperti Takabonerate International Fishing Tournament[16][17], menyelam, lomba foto di bawah air dan lomba renang antar pulau terbuka dengan jarak antara lima hingga enam kilometer.
Selain obyek wisata bahari Taman Nasional Takabonerate terdapat pula tempat-tempat wisata yang menyebar hampir di seluruh Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Selayar[3]. Berikut ini beberapa Obyek Wisata / tempat yang menarik untuk dikunjungi :

Referensi

  1. ^ "Perpres No. 6 Tahun 2011". 17 Februari 2011. Diakses pada 23 November 2011.
  2. ^ "Perubahan Nama Kabupaten Selayar Menjadi Kabupaten Kepulauan Selayar". Sekretariat Negara Republik Indonesia. 21 Agustus 2008.
  3. ^ a b c d e f "Kabupaten Kepulauan Selayar Dalam Angka 2010". Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Selayar.
  4. ^ a b "Selayar juga disebut kabupaten maritim..". Tabloid SINAR TANI. Diakses pada 11 November 2011.
  5. ^ a b "Kita memiliki kekayaan alam yang besar..". Ujungpandang Ekspres. 12 April 2011. Diakses pada 11 November 2011.
  6. ^ "Menko Perekonomian bersama BPPT melaksanakan kajian..". PedomanNEWS.com. 26 September 2011. Diakses pada 11 November 2011.
  7. ^ "Cedaya telah diabadikan dalam Kitab Negarakertagama..". Selayaronline.com. 7 April 2009. Diakses pada 11 November 2011.
  8. ^ "The Word Selayar is derived from the Sanskrit word "CEDAYA"..". http://www.ling.hawaii.edu. Diakses pada 17 November 2011.
  9. ^ "Jumlah mereka sekitar 200 orang..". Selayaronline.com. 30 Oktober 2007. Diakses pada 11 November 2011.
  10. ^ "Sulawesi Selatan Dalam Angka 2010". Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan.
  11. ^ "Potensi Wisata di Kepulauan Selayar..". www.disbudpar-selayar.com. Diakses pada 18 November 2011.
  12. ^ "Taman Nasional Taka Bonerate". SK Menteri Kehutanan Republik Indonesia No.280/Kpts-II/1992.
  13. ^ "Apakah anda tahu Indonesia memiliki karang..". puppytraveler.com. 2 Juli 2011. Diakses pada 11 November 2011.
  14. ^ "TAKABONERATE ISLAND EXPEDITION". http://lantamal-6.mil.id. Diakses pada 18 November 2011.
  15. ^ "Sudah ada surat keputusan dari Menko Kesra..". www.antara-sulawesiselatan.com. 23 September 2011. Diakses pada 18 November 2011.
  16. ^ "Takabonerate Island Expedition akan diisi kegiatan lomba rutin seperti..". travel.kompas.com. 23 September 2011. Diakses pada 18 November 2011.
  17. ^ "Panitia Takabonerate International Fishing Tournament 2011 terus..". festivaltakabonerate.com. 1 Januari 2011. Diakses pada 18 November 2011.

Pranala luar

'bohemian rhapsody' by Queen

artikel ini sudah di klik sebanyak
kali

Pesan dalam botol

artikel ini sudah di klik sebanyak
kali
Ini bukan dongeng. Tapi kejadian nyata yang terjadi sejak dulu kala. Sejumlah kisah tentang pesan-pesan yang dimasukkan ke dalam botol dan dihanyutkan ke lautan. Sebuah cara pengiriman pesan yang tetap dikenang dalam sejarah manusia.
Pesan dalam botol (message in the bottle) adalah suatu bentuk komunikasi “kuno”. Caranya dengan menempatkan sebuah surat atau pesan singkat di dalam sebuah tabung kedap air (bisa drum, botol kaca, botol plastik atau kontainer khusus) dan dihanyutkan ke laut atau samudera. Biasanya pesan tersebut tidak ditujukan kepada alamat tertentu, karena sifatnya yang memang bisa mencapai wilayah mana saja tergantung arus laut. Karena itu, penggunaan pesan dalam botol biasanya dilakukan dalam keadaan darurat seperti pesan permintaan tolong yang dilakukan kapal tenggelam, kapal rusak, atau orang yang terdampar di pulau terpencil.
Namun karena ketidakefektifan dan terkesan “untung-untungan”, pengiriman pesan dalam botol ini pun akhirnya tidak termasuk dalam sistem pengiriman pesan formal. Namun masih banyak orang hingga kini yang memakainya sebagai bagian dari hiburan, kesenangan dan permainan. Bahkan istilah pesan dalam botol juga sudah mengalami perubahan makna. Bukan lagi pesan yang benar-benar disimpan dalam botol, tapi sudah mengandung frase (pengertian) mengenai sebuah pesan yang disampaikan lewat media, khusus dengan target tak terarah.
Botol memang sebuah wadah yang tepat untuk kondisi lautan. Sifat bahan pembuatnya yang dari kaca, menyebabkan botol tidak terkena erosi air, kerusakan akibat air asin dan sangat sulit diurai. Selain itu, botol tertutup rapat akan kedap air dan berisi udara di dalamnya yang memungkinkan terapung dalam waktu lama. Karena sifatnya yang mengapung, botol akan mengikuti arah angin dan arus laut, hingga berhenti saat terhempar ke pantai dan daratan.




















Dalam sejarah, catatan pertama penggunaan pesan dalam botol telah dilakukan pada tahun 310 SM oleh filsuf Yunani kuno Theophrastus, sebagai bagian dari eksperimen arus laut untuk memperlihatkan bahwa Laut Mediterania adalah satu aliran dengan Samudera Atlantik




















Lalu catatan lain juga membukukan bahwa Christopher Colombus (1451-1506) sang penjelajah dan penemu Benua Amerika (New World) menggunakan pesan dalam botol saat armada kapalnya dihantam sejumlah badai lautan. Ia memasukkan laporan singkat catatan perjalanannya dan pesan khusus untuk Ratu Spanyol ke dalam sebuah drum, lalu melemparkannya ke laut. Ia berharap agar pesan itu bisa diterima, walaupun ia tak selamat dari amukan badai.
Lantas di abad 16, Angkatan Laut Inggris menggunakan pesan dalam botol untuk memberi informasi kepada sesama armada kapal Inggris. Pesan itu memuat informasi intelijen penting mengenai posisi musuh dan keadaan perairan. Namun karena seringkali nelayan menemukan botol pesan itu lalu membukanya, pesan intelijen pun bocor.
Ratu Elizabeth I yang murka karena data intelijen sering dibuka dan akhirnya diketahui publik, kemudian menetapkan aturan khusus bahwa pesan dalam botol milik Angkatan Laut Inggris dan Kerajan Inggris tidak boleh dibuka sembarangan, kecuali oleh pejabat khusus pembuka pesan kerajaan “Uncorker of Ocean Bottles”. Pelanggaran terhadap perintah ini diancam hukuman mati.
Penggunaan pesan dalam botol dalam catatan paling modern dilakukan oleh “manusia perahu” pada Mei 2005. Sejumlah 88 perahu kaum migran ini diselamatkan dari lepas pantai Costa Rica setelah otoritas terdekat menemukan pesan dalam botol dari sebuah kapal nelayan yang merapat. Pesan dalam botol itu ternyata diikatkan oleh konvoi kapal-kapal pengungsi itu ke sebuah kapal nelayan yang melintas di dekat mereka. Isinya pesan singkat SOS memohon mereka diselamatkan.

Romantisme Pesan Dalam Botol

Ada satu kisah romantis yang tetap dikenang tentang pesan dalam botol. Kisah tentang sepasang anak manusia yang mulanya terpisah ribuan mil oleh lautan, namun akhirnya bersatu dalam ikatan cinta sejati. Perjodohan yang dibawa sebuah pesan dalam botol.
Adalah Ake Viking, seorang pelaut Swedia yang merasa sangat kesepian. Ia bekerja di sebuah kapal pesiar yang senantiasa mengarungi belahan dunia. Karena pekerjaannya di atas kapal, ia tak sempat bersosialisasi dengan kehidupan di daratan.
Pada tahun 1956, ia mencurahkan kerinduannya dalam sebuah surat. Dalam pesannya ia berharap akan menemukan seorang gadis pujaan hati untuk dipersunting sebagai istrinya. Ia meminta siapa saja wanita muda yang menemukan pesan itu agar membalas suratnya. Dengan untung-untungan pun ia memasukkan pesan itu ke dalam sebuah botol anggur bekas dan melemparnya ke tengah lautan.
Berbulan-bulan kemudian, seorang nelayan tua di Sisilia (Itali) menemukan pesan itu tersangkut di jalanya. Ia kemudian membuka botol itu dan membaca surat di dalamnya. Si nelayan membawa pulang pesan dalam botol itu dan dengan bercanda menunjukkan surat tersebut kepada putrinya, Paolina. Tergelitik keisengan dan rasa penasaran serta merasa bahwa ini semacam permainan yang mengasyikkan, Paolina membalas surat tersebut ke alamat perusahan kapal pesiar tersebut.
Dalam bulan-bulan berikutnya suratnya berbalas, Ake Viking dan Paolina kemudian terlibat intens dalam surat menyurat tanpa pernah bertemu. Obrolan korespondensi menjurus hal-hal romantis dan hubungan mereka semakin menghangat.
Dua tahun kemudian, Ake Viking mengambil cuti mengunjungi Paolina di Sisilia. Jodoh pun terpaut dan Ake Viking berjanji untuk kembali lagi. Pada musim gugur 1958, Ake Viking kembali ke Sisilia dan melamar Paolina pada pertemuan kedua mereka. Kedua sejoli ini pun akhirnya menikah di tahun itu juga. Wah!

Kisah-kisah Pesan Dalam Botol

Banyak fakta yang berhubungan erat dengan pesan dalam botol. Kisahnya berbau sains, misteri dan romantisme… namun memang sarat nuansa humanis. Hanya berawal dari sebuah pesan dalam botol!
Satu kisah nyata memilukan yang misterius berasal dari catatan Chunosuke Matsuyama. Ia adalah seorang pelaut Jepang yang menjadi korban kapal karam bersama 44 krunya di tahun 1784. Dalam pelayaran, kapal mereka dihantam badai dan karam di lautan Pasifik. Matsuyama dan sejumlah krunya yang selamat terdampar di sebuah pulau karang terpencil di Pasifik.
Setengah putus asa melihat rekannya satu persatu tewas kelaparan, Matsuyama menuliskan tragedi yang menimpa mereka di atas sebuah kulit kayu lalu memasukkannya ke sebuah botol. Setelah menyegel botol agar kedap air, ia melemparkannya ke lautan.
Kira-kira 150 tahun kemudian di tahun 1934, pesan dalam botol yang dituliskan Matsuyama tersapu ombak dan mendarat di pantai berpasir di desa kelahirannya. Tak ada penjelasan yang bisa menjawab bagaimana pesan itu bisa sampai di desa kelahiran Matsuyama?

Pesan dari Medan Perang

Keanehan lain datang dari medan pertempuran Perang Dunia I. Saat berlayar melintasi Selat Inggris (English Channel) menuju front tempur (1914), seorang prajurit infantri Inggris Thomas Hughes yang didera kerinduan pulang ke rumah menulis sebuah surat untuk istrinya. Surat itu dimasukkannya ke dalam sebuah botol kedap air dan dilemparnya ke lautan. Dua hari kemudian konvoi kapal mereka diserang dan Thomas Hughes dilaporkan tewas dalam pertempuran itu.
Delapan puluh lima tahun kemudian di bulan Maret 1999, seorang nelayan menemukan sebuah botol tua yang berisi pesan dari muara Sungai Thames. Ia membaca pesan tersebut lalu menempuh perjalanan ke Auckland, Selandia Baru untuk mengantarkan surat itu secara langsung kepada putri Hughes. Putri Hughes berusia 86 tahun itu sangat terharu. Ini adalah satu-satunya surat yang pernah diterimanya dari sang ayah, seumur hidupnya.
Kisah lain berasal dari dua tentara Australia di masa PD I. Dalam perjalanan menuju front tempur di Prancis, mereka sepakat membuat surat untuk ibunya. Mereka memasukkan surat tersebut ke dalam botol dan melarungnya ke laut.
Kedua tentara ini dilaporkan tewas dalam pertempuran di Prancis. Namun pesan dalam botol itu ditemukan 37 tahun kemudian. Botol itu terdampar di pantai Pulau Tasmania pada tahun 1953. Surat itu diantarkan kepada kedua ibu serdadu itu dan mengenalinya sebagai tulisan tangan asli anaknya.
Pesan lain muncul dari sebuah botol yang lolos dari medan perang Eropa-Afrika. Sebuah pesan dalam botol ditemukan dari pantai Maine AS, 1944. Pesan itu berisi laporan singkat: “Our ship is sinking. SOS didn’t do any good. Think it’s the end. Maybe this message will get to the US some day” (Kapal kami tenggelam. SOS tidak berbalas. Kami habis. Mungkin suatu saat nanti, pesan ini akan mencapai Amerika Serikat).
Setelah diteliti, ternyata pesan itu berasal dari kapal Perusak USS Beatty (DD-640), yang dihantam torpedo armada Jerman di laut wilayah barat, laut Afrika dan karam tak jauh dari selat Gibraltar pada 6 November 1943 saat Perang Dunia II.

Sebuah Penyelamatan

Tak selamanya pesan dalam botol terlambat tiba. Akibat sebuah pesan dalam botol, sekelompok pelaku pemberontak di atas kapal (mutiny) ternyata berhasil ditangkap. Kejadiannya bertahun 1875.
Di atas kapal layar bertiang tiga (bark) Lennie milik Canada, terjadi pemberontakan seluruh kru terhadap sejumlah perwira kapal. Kapal tersebut diambil alih dan menyisakan seorang perwira rendah yang memahami navigasi dan sistem kemudi kapal. Ia mengarahkan kapal menuju perairan Prancis dan mengatakan pada para pemberontak bahwa mereka berada di wilayah Spanyol. Saat itu si juru mudi melemparkan sejumlah pesan dalam botol tentang tragedi di atas kapal.
Ternyata salah satu pesan dalam botol ditemukan otoritas Prancis dan langsung meresponnya. Masih berlayar di perairan Prancis, kapal tersebut dihentikan Angkatan Laut Prancis dan seluruh kru yang memberontak ditangkap. Para pemberontak heran, mengapa aksi pemberontakan mereka bisa diketahui otoritas Prancis. Kekuatan sebuah pesan dalam botol.

Pesan “Ilmiah” dalam Botol

Berawal dari kebiasaan mengirimkan pesan dalam botol, akhirnya sebuah temuan ilmiah terjadi. Yaitu pemetaan aliran arus teluk dan peta arus laut (Gulf Stream Map) oleh Benjamin Franklin. Ia yang pertama kali melakukan pemetaan aliran arus teluk yang melengkapi peta arus laut yang dasarnya dipakai hingga kini.
Sejumlah percobaan telah dilakukan dan menyimpulkan bahwa sangat sulit memprediksi arah hanyut sebuah botol di laut lepas.
Ada percobaan menggunakan dua botol dilarungkan ke laut secara bersamaan dari lepas pantai Brazil. Botol pertama hanyut selama 130 hari dan ditemukan di pantai Afrika. Botol yang lain hanyut ke arah barat laut selama 190 hari dan terdampar di Nikaragua.
Penelitian lain, membuktikan bahwa arah botol yang terapung di laut tergantung pada kecepatan angin dan arus laut. Bisa saja botol tersebut terapung-apung mengikuti arah angin, meniupnya seiring gelombang air. Atau terseret arus teluk dan arus laut yang membawanya dengan kecepatan 4 knot sejauh 100 mil per hari.
Perjalanan botol terjauh dan terlama dalam eksperimen adalah botol yang dijuluki Flying Dutchman (namanya sesuai legenda tua kapal hantu yang terapung di laut lepas). Dilemparkan pertama kali dalam ekspedisi ilmiah ilmuwan Jerman pada 1929 di wilayah selatan Laut Hindia. Di dalamnya ada pesan singkat yang memohon penemu botol itu agar menuliskan lokasi ditemukan botol itu dan kemudian melemparnya kembali ke laut.
Eksperimen si Jerman membuktikan bahwa botol pesan itu melambung ke Amerika Selatan melintasi Atlantik, lalu kembali ke Samudera Hindia dan terdampar di perairan Barat Australia pada 1935. Tercatat bahwa botol itu mengarungi samudera sejauh 16.000 mil selama 2.447 hari (sekitar 6,5 tahun) dengan kecepatan jelajah rata-rata 6 mil laut perhari.
Temuan paling penting dilakukan Benjamin Franklin. Ketika dia menjabat sebagai kepala kantor pos Inggris untuk koloni Amerika, ia menyadari bahwa para kapten kapal penangkap paus mengetahui arus laut lebih baik ketimbang mitranya dari Inggris. Kapal-kapal Amerika menyeberangi Laut Atlantik jauh lebih cepat dibandingkan kapal-kapal Inggris untuk mengantarkan paket pos. Ia pun menyusun sebuah peta berdasarkan pengetahuan para pelaut penangkap paus dan informasi yang diperolehnya dengan menjatuhkan sejumlah botol dengan instruksi tertulis ke dalam arus teluk laut (gulf stream) dan meminta siapa-siapa yang menemukanya untuk mengembalikan botol-botol tersebut.
Berdasarkan semua informasi itu, ia pun mengaplikasikannya menjadi sebuah peta arus laut. Ia pun menjadi pencipta peta Gulf Stream pertama dan menerbitkannya tahun 1770 bersama rekannya, kapten kapal penangkap paus Timothy Folger. Kopian peta tersebut sempat hilang selama hampir 200 tahun hingga akhirnya ditemukan di Prancis.

Sayembara Nasional

artikel ini sudah di klik sebanyak
kali

Penjelasan Mengenai Sayembara dapat diunduh disini.
Formulir Pendaftaran Sayembara dapat diunduh disini.


LATAR BELAKANG


       Keberagaman budaya Indonesia dalam segi arsitektural telah memiliki solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang biasa dihadapi penduduk lokal, seperti iklim tropis, serangan binatang buas, masalah geologi, dan lain-lain. Sebagai contoh, bahan yang digunakan sebagai konstruksi dan fasade bangunan adalah kayu, bambu, dan bahan-bahan alami lainnya. Hal ini dikarenakan melimpahnya bahan tersebut pada saat itu. Tidak hanya itu, konstruksi yang digunakan merupakan teknologi konstruksi sederhana yang tahan gempa sesuai dengan kondisi geologi kepulauan Indonesia yang terbagi atas lempengan-lempengan.
          Dewasa ini, bahan-bahan alami semakin langka karena banyaknya eksploitasi dan kurang sadarnya masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber daya alam, sehingga bahan dan konsep tersebut mulai ditinggalkan sebagian besar masyarakat dan beralih ke teknologi yang diciptakan negara Barat, terlebih pada bangunan-bangunan komersial tersebut kurang sesuai dengan konsep budaya Indonesia.
          Oleh karena beberapa permasalahan tersebut di atas, dibutuhkan bangunan komersial yang mempunyai gabungan antara sains dan teknologi sesuai dengan konsep budaya Indonesia sehingga tidak terpaku dengan teknologi di jaman dahulu dan tidak berkembang, serta sesuai dengan konteks perkotaan (urban) yang ada di lokasi tapak, sehingga bangunan tersebut diharapkan dapat bertahan sampai 15 tahun ke depan, bahkan lebih.


KETENTUAN SAYEMBARA
  1. Peserta sayembara terdiri dari kelompok (maksimal 3 orang) atau individu.
  2. Bangunan yang didesain berjenis bangunan komersial
  3. Lokasi bebas, bisa diasumsikan lahan kosong, luas maksimum tapak 5000 m2
  4. Bangunan terletak di daerah urban
  5. Penggunaan material menggunakan material yang ada di daerah sekitar   tapak yang akan dibangun, maksimal radius 25 km dari tapak
  6. Tinggi bangunan maksimal 8 lantai (disesuaikan dengan kebutuhan ruang)
  7. Desain bangunan harus tanggap terhadap iklim dan lingkungan sekitar
  8. Produk yang dihasilkan berisi gambar konsep, siteplan, layout plan, tampak, potongan, serta perspektif 3D.
  9. Hasil karya dikirimkan dalam format .jpg dengan kualitas 300 pixel/inch. Format penyajian hasil karya berukuran kertas A3 maksimal 3 lembar.
  10. Peserta hanya bisa mengirimkan maksimal 2 hasil karya.


PENDAFTARAN SAYEMBARA
Batas Akhir Pendaftaran dan Pembayaran : 10 Maret 2011 pukul 21.00
Tempat Pendaftaran :
1. On the spot
    Himpunan Arsitektur Brawijaya
    Lantai 2 Gedung Kemahasiswaan
    Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
    Jl. MT. Haryono 167, Malang 65145
2. Online
    Formulir pendaftaran dapat diunduh di blog 
    www.archubpost.blogspot.com dengan menyertakan 
    scan bukti pembayaran

Biaya pendaftaran : Rp 50.000,00 ditransfer ke rekening:
BCA
a/n Christian Putra S
No. Rekening 3850345090
Bank Mandiri
a/n Desetrieke Firosa Adani
No. Rekening 1440006561010


PENGUMPULAN HASIL DESAIN
Hari & Tanggal : 16 Maret 2011
Pengumpulan dikirim ke e-mail panitia archubpost@yahoo.com, berakhir pukul 21.00


PRESENTASI DAN PENGUMUMAN JUARA
Dari seluruh peserta akan disaring 10 karya yang berhak dipamerkan pada Seminar Nasional tanggal 26 Maret 2011. Dari 10 nominasi ini dipilih 3 finalis yang diundang untuk mempresentasikan hasil karyanya pada saat seminar dan memperebutkan Juara I.

Hari & Tanggal  : Sabtu, 26 Maret 2011
Tempat            : Convention Hall Balai Agung Majapahit

                          Hotel Santika Premiere Malang


HADIAH
Juara I Rp 7.500.000,00 + sertifikat juara + trophy
Juara II Rp 5.000.000,00 + sertifikat juara + trophy
Juara III Rp 2.500.000,00 + sertifikat juara + trophy

Seluruh peserta sayembara akan mendapatkan sertifikat peserta.


DEWAN JURI

Ridwan Kamil, arsitek
Ciputra, arsitek/enterpreneur


CONTACT PERSON

Nina (085646454421)

The Future According to Radiohead

artikel ini sudah di klik sebanyak
kali
Sunday afternoons, Thom Yorke enjoys taking his kids to Oxford University's Museum of Natural History, a stately, neo-Gothic building on the outskirts of the city center. They wander around the grand atrium, past the skull of the humpback whale, propped up like a massive bear trap, and the stuffed dodo bird behind glass, and the creepy statues of Great Men of Science. The statues are extremely lifelike except for their eyeballs, which, thanks to some odd sculptorial decision, have been rendered as entirely blank orbs, giving boyish, pensive Newton and bearded, stoic Darwin and an unreasonably furious-looking Aristotle all terrifying dead-eyed stares. And, of course, Yorke's kids love the enormous dinosaur skeletons, which dominate the room, rearing up in fearsome poses.
Approximately 150 years earlier, a sickly, stuttering Oxford mathematician named Charles Dodgson would come to the museum with his college dean's young daughter, Alice Liddell; to entertain her, he would make up fantastic stories about the dodo and various other animals, which he eventually published under his pen name, Lewis Carroll, as Alice's Adventures in Wonderland. Yorke, who is thirty-nine — he has a three-year-old daughter and a six-year-old son — also occasionally writes about animals, though not in a way meant to delight children. "Myxomatosis," from the 2003 Radiohead album, Hail to the Thief, is named for a horrible disease that kills rabbits and opens with the line "The mongrel cat came home holding half a head...." Then there is "Weird Fishes/Arpeggi," a track on the most recent Radiohead album, In Rainbows, in which Yorke imagines himself at the bottom of the ocean being nibbled upon by fish and worms. Pluralizing "fish" as "fishes" is an unusual choice, and whenever Yorke howls the words "weird fishes," the questionable grammar makes him sound like a demented schoolboy.
This article appeared in the February 7, 2008 issue of Rolling Stone. The issue is available in the online archive.
The rest of the song has a muffled, underwater quality, with the titular arpeggio underlaid by a spare, insistent percussion and the guitar notes occasionally warping to sound like a steel drum might be buried deep in the mix. In another strange turn of phrase, Yorke croons, "Your eyes, they turn me," creating an interesting tension by never adding the expected "on." With all of the references to freedom — "why should I stay here"; "everybody leaves if they get a chance" — the song could almost pass for a morbid parody of early Springsteen, as if the protagonists of "Thunder Road" had busted loose from small-town Jersey by throwing themselves off a bridge. "Hit the bottom," Yorke sings in the final lines, "and escape."
A few blocks from the natural-history museum, Yorke arrives for an interview at the Old Parsonage, a centuries-old building — Oscar Wilde lived here as a student — since turned into a quaintly cluttered inn. Yorke's face is furrowed and unshaven, and though he certainly looks his age, perhaps older, he's also the most boyish member of Radiohead, small, fidgety and, this morning, wearing jeans, a gray hooded sweatshirt and a knapsack with the straps stretched over both shoulders. (When guitarist Ed O'Brien shows up an hour later and sits beside Yorke, it's like a study in contrasts, stark examples for schoolchildren on how good and bad boys should behave: There's Yorke, squirming, hair a spiky mess, occasionally putting his head down or wiping his nose with his sleeve, while O'Brien, at six-five nearly a foot taller than Yorke, demonstrates unnervingly perfect posture, barely even moving his head as he speaks in precise tones.)
We're in a side room off the lobby. A Japanese businessman is sitting at a table in the corner, typing silently on a laptop as he waits to check in, while flames crackle in the hearth. "Big fire," Yorke notes, then murmurs, "They should use a stove. More efficient." Yorke's left eye is damaged from a series of operations he had as a child and is now stuck in a permanent downward list. But this morning both eyes are nearly squinted shut, and he has a sleepy grin. His daughter has a cough, and he's been up all night.
 

My Blog Feeds »

Follow This Blog

@zQheert All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates